Systemaniax.com – Publik kembali di kejutkan oleh kabar yang menyeret proyek kereta cepat Whoosh, salah satu proyek besar yang di gagas oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Proyek yang awalnya di harapkan menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia itu kini menuai polemik dan tudingan miring. Banyak pihak menilai proyek tersebut bermasalah, terutama dari sisi anggaran dan transparansi.
Tak sedikit pula yang mengkritik kepemimpinan Jokowi, menyebutnya sebagai salah satu presiden dengan rekam jejak paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Meski begitu, sejumlah relawan dan pendukung setia Jokowi yang dulu mendapat posisi di pemerintahan masih tetap menunjukkan loyalitas.
Baca juga: Bank Indonesia Optimis Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Di Kuartal Iii
Jokowi Sebut Whoosh Sebagai Layanan Sosial
Dalam beberapa pernyataannya, Jokowi menegaskan bahwa proyek kereta cepat Whoosh tidak seharusnya dilihat dari sisi keuntungan atau kerugian semata. Ia menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari “layanan sosial” yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Namun, pernyataan ini justru menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy.
Ichsanuddin Noorsy, “Itu Bukan Layanan Sosial”
Dalam wawancara dengan melalui program On Focus pada Selasa (28/10/2025), Ichsanuddin Noorsy mempertanyakan logika pernyataan Jokowi tersebut. “Apa itu layanan sosial dalam konstruksi APBN? Saya nggak ngerti itu,” ujarnya. Menurut Noorsy, layanan sosial semestinya ditujukan kepada masyarakat rentan seperti orang miskin, jomblo, atau anak terlantar.
Sementara proyek kereta cepat Whoosh, kata dia, justru lebih banyak melayani kalangan menengah ke atas. “Kalimat yang tepat bukan social services, karena penumpangnya orang kaya,” tegasnya.
Desak Transparansi Perjanjian dengan China
Lebih jauh, Ichsanuddin menilai polemik ini memperlihatkan lemahnya kompetensi pejabat publik. “Banyak pejabat di Indonesia punya jabatan tinggi tapi kemampuan rendah. Mereka tidak paham konstitusi dan tidak punya keahlian,” tegasnya. Ia juga mendesak agar pemerintah membuka secara transparan isi perjanjian antara konsorsium Waskita dan pihak China terkait proyek Whoosh.“Siapa yang tahu sekarang perjanjiannya seperti apa? Tidak ada yang terbuka, tidak ada yang tahu,” pungkasnya.
